Life – Dreams = Job

Icon

Let's discuss about business and marketing, especially mobile marketing, just tweet me @yoseazka

Creating World Class Company from Indonesia (Creative Industry can be a solution)

benderaMenjadi suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia, apabila kita memiliki world class company. Sampai saat ini hanya segelintir perusahaan Indonesia yang berani memiliki cita-cita untuk menjadi world class company, seperti Telkom dan Pertamina. Beberapa perusahaan juga sudah mulai mengembangkan sayapnya ke luar negeri, seperti Medco dan Ciputra. Sementara kebanyakan perusahaan lainnya masih berpuas diri dengan menjadi market leader di negeri sendiri, atau sekedar melakukan ekspor produksinya ke luar negeri, atau hanya menjadi tempat produksi produk perusahaan luar negeri.

Hal ini cukup ironis, mengingat banyaknya sumber daya yang kita miliki. Negeri kita dianugerahi sumber daya alam yang sangat melimpah, namun ironisnya kekayaan alam kita lebih banyak dikuasai oleh asing. Negeri kita juga memiliki sumber daya manusia yang sangat banyak, justru jadi suatu ironi dan ketidakwajaran apabila diantara 220 juta penduduk Indonesia tidak dapat melahirkan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Negara-negara lain yang tidak memiliki kekayaan alam dan SDM sebanyak kita, justru mampu melahirkan perusahaan-perusahaan kelas dunia, seperti Jerman dengan Mercedes & BMW, Finlandia dengan Nokia, Jepang dengan Toyota, Sony dan Honda, bahkan Malaysia pun bisa dengan Petronasnya.

Apa yang kita, sebagai generasi muda bisa lakukan untuk membawa bangsa kita ke kancah perekonomian global. Saat ini pun yang sudah mencanangkan sebagai perusahaan kelas dunia di Indonesia adalah perusahaan milik Negara (BUMN), yang pastinya memiliki dana dan akses sangat besar. Apakah kita sebagai pengusaha pemula tidak bisa bermimpi akan memiliki perusahaan kelas dunia? Jangan pesismis dulu, dengan fakta-fakta tersebut. Jangan lupakan cerita-cerita dibalik kesuksesan IT company yang tumbuh menjadi new wave economy. Facebook, Google, Yahoo!, Twitter, Youtube dan beberapa perusahaan IT lainnya, dibangun bukan dengan modal dan asset yang berlimpah. Perusahaan-perusahaan ini dimulai dari garasi atau asrama-asrama mahasiswa di AS. Lihat nilai kapitalisasi mereka saat ini, Yahoo!  pada tahun 2008 bahkan menolak penawaran dari Microsoft senilai $44.6 Billion, atau senilai RP. 450 trilyun, jadi bisa dibayangkan berapa nilai dari Yahoo! sesungguhnya.

Coba amati apa kesamaan dari Yahoo!, Facebook, Google, Twitter dan Youtube. Mereka sama-sama menawarkan layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak semuanya adalah pionir, tapi mereka menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan nilai tambah atas kebutuhan tersebut dengan ide yang simple, tapi kreatif. Jadi kuncinya adalah di kreativitas dan inovasi. Dua hal tersebut sudah build in di dalam otak kita, modal yang sangat mahal tapi sudah diberikan oleh Allah secara gratis kepada kita. Kalau dicoba diilustrasikan, saat ini sedang berlangsung project pengembangan otak buatan, mereka bilang perlu 10.000 laptop untuk menyelesaikan proyek ini dalam 10 tahun ke depan. Jadi kalau mau lancang, menghitung nilai ekonomis otak manusia berarti sekitar 10.000 x 20.000.000 = 200.000.000.000 ( Dua Ratus Milyar Rupiah), jadi Anda harusnya sangat pede untuk berkreasi dan berinovasi karena Anda sudah memiliki tools yang super canggih dan super mahal.

So, apa yang menjadi masalah di Indonesia sehingga anak mudanya belum bisa menghasilkan perusahaan seperti Facebook, Google, Youtube dll. In my point of view, ada beberapa persoalan yang dihadapi, yaitu :

  1. Kurikulum pendidikan kita mengajarkan untuk menjadi pekerja bukan pengusaha. Sangat kecil sekali SKS yang mengajarkan tentang kewirausahaan atau enterpreneuship, dan kalau adapun sifatnya hanya teori dan yang lebih parah kebanyakan pengajarnya bukan pengusaha. Setelah lulus kuliah, mereka berlomba-lomba melamar ke perusahaan besar atau pns, dan semakin melupakan ide atau mimpinya.
  2. Industri kreatif sejauh ini hanya menjadi jargon dari pemerintah. Para pelakunya dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri, tidak ada insentif khusus dari pemerintah. Kalaupun ada hanya sebatas pameran yang sifatnya seremonial tanpa keberlanjutan pembinaan atau pembukaan pasar yang lebih luas misalnya.
  3. Tingkat penghargaan terhadap ide kreatif di Indonesia masih rendah. Ide masih ditempatkan di bawah factor financial dan penguasaan pasar. Baik pemerintah, perbankan maupun pelaku usaha besar belum memiliki tingkat apresiasi yang tinggi terhadap ide-ide kreatif. Mereka hanya mau berinteraksi dengan bisnis-bisnis yang sudah mapan.
  4. Sementara pebisnis pemula menghadapi kendala permodalan dan managemen, pebisnis generasi kedua sudah disibukkan oleh kewajiban melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarganya. Mereka sudah berada di comfort zone dan tidak terfikir lagi untuk berkreasi dengan bisnis baru yang sifatnya kreatif bukan sekedar bermodalkan financial saja.
  5. Karena kurangnya dukungan, banyak bisnis-bisnis kreatif yang mati sebelum berkembang. Padahal apabila dilakukan dengan konsisten dan didukung oleh managemen dan financial yang kuat, kesuksesan tinggal menunggu waktu saja.

Setelah mengetahui penyebab masalahnya, ada beberapa solusi yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk mewujudkan lahirnya bisnis-bisnis kreatif kelas dunia dari Indonesia, yaitu :

  1. Pemerintah harus lebih care dan dapat menjadi pendorong bagi berkembangnya industry kreatif di Indonesia. Secara konsisten lakukan stimulasi dan pembinaan untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya industry kreatif. Sisihkan dana APBN untuk mendorong hal tersebut, tapi tolong untuk kegiatan yang lebih produktif tidak sekedar pameran dan seremonial belaka. Selain dana, pemerintah juga perlu mempekerjakan orang-orang yang mengerti dan professional sebagai representasi pemerintah untuk mengurus industry kreatif di Indonesia.
  2. Kalangan perbankan perlu memikirkan skema pendanaan yang lebih reasonable bagi start up company. Sekitar 90% kendala pendanaan ada di masalah penjaminan, dan memang ini adalah masalah klasik yang dihadapi oleh mayoritas perusahaan di Indonesia, kecuali mereka memang berasal dari keluarga berada tapi yang masuk dalam kelompok ini sangat minoritas. So, kreativitas dan inovasi juga dibutuhkan oleh perbankan dalam menyalurkan skema pendanaannya.
  3. Pihak akademisi harus lebih meningkatkan kemauan dan kemampuan mahasiswa untuk terjun ke dunia usaha. Ide dan mimpi mereka harus mulain dibangun sejak bangku kuliah. Jadikan dunia usaha adalah pilihan pertama, dan kerja pilihan terakhir. Jalin kerjasama dengan institusi terkait untuk mewujudkan ide-ide kreatif para mahasiswa dalam bentuk bisnis.
  4. Para pelaku usaha yang sudah besar dan mapan harus jeli dan bisa melihat potensi ide atau bisnis yang dapat booming ke depannya. Jadikan ini peluang Anda untuk melakukan diversifikasi usaha, jadikan ini target bisnis Anda bukan sekedar kewajiban menyalurkan CSR saja. Bayangkan apabila Andalah yang membesarkan Yahoo! Atau Facebook semenjak mereka kecil, bayangkan berapa besar asset bisnis Anda, mungkin lebih besar daripada bisnis inti Anda sekarang. Banyak ide usaha dan bisnis kreatif di luar sana yang menunggu Bapak Asuh untuk tumbuh dan berkembang bersama. Kirimkan intel-intel bisnis Anda ke perpustakaan universitas, kamar kost ataupun asrama mahasiswa karena disanalah berkeliaran ide-ide liar yang kreatif yang dapat bernilai milyaran rupiah ke depannya.

Semua stakeholder diatas juga bisa secara bersama-sama, maupun mandiri melakukan langkah-langkah aktif (menjemput bola) dalam rangka menemukan dan mengembangkan industry kreatif. Secara rutin mereka bisa melakukan creative searching, berupa kegiatan-kegiatan pencarian bisnis-bisnis kreatif dan inovatif, mungkin seperti yang secara rutin dilakukan oleh MTV dalam mencari VJ dalam bentuk “MTV VJ HUNT”. Kegiatan ini harus dilakukan sesering dan sekreatif mungkin sehingga benar-benar dapat menjaring potensi-potensi bisnis kreatif. Dan yang paling penting adalah pembinaan yang dilakukan terhadap bisnis kreatif yang ditemukan, tidak hanya sekedar bantuan keuangan tapi juga bantuan manajemen dan akses pasar. Karena mereka umumnya merupakan orang-orang yang sangat tekun dan kreatif di bidangnya, dan tidak terlalu peduli dan menguasai akan masalah manajemen usaha dan penjualan ke pasar.

Dengan melakukan usaha-usaha tersebut di atas, insyaAllah Indonesia bisa memiliki bisnis-bisnis kreatif kelas dunia, seperti Yahoo!, Facebook, Google dll. Karena karakteristik “blue ocean” yang dimiliki oleh bisnis kreatif, maka mereka dapat segera eksis dan menonjol dalam waktu singkat dalam pasar dunia. Kalau perusahaan-perusahaan dibidang konvensional, seperti telekomunikasi dan pertambangan, sebesar apapun mereka akan sulit untuk menonjol dan menjadi pembicaraan di kelas dunia. Karena pemain di bidang ini sudah sangat banyak, karakteristiknya serupa dan tanpa diferensiasi yang kuat. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mengembangkan industry kreatif di Indonesia, agar dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.

Filed under: Bisnis

3 Responses

  1. unggi says:

    Insya Allah…mari bersama kita bermimpi,..start with dreams, biarkan Allah memberikan sebagian kesempurnaanNya,,,

  2. Rian Andrian says:

    nice pa Yose,saya kenal pa yose adalah calon bos saya beberapa bulan yang lalu,daaan waw great. tulisan a yose inspiratif sekali, dan kebetulan passion saya kearah sini sangat besar. trimakasi pa, semoga lain waktu kita bisa sharing tentang angan,mimpi dan harapan.passion and goal🙂
    bismillah, semoga semua konsep, creative idea dan movement kita sebagai generasi muda bisa membuahkan hasil yang manis🙂 aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 434,274 hits

Bookmark Blog

%d bloggers like this: